August 31, 2016 | Posted in Fastosis | By

Mengapa bisa terjadi HC atau healing crisis jika saya menjalankan program Fastosis ini ? Healing Crisis (HC) adalah proses dimana tubuh berusaha mengeliminasi dan mengeluarkan segala bentuk kotoran (impurities) yang tersimpan didalam tubuh yang mengganggu keseimbangan (homeostasis) dari fungsionalitas seluruh sel-sel ditubuh.

Hal ini akan terjadi saat sistem immune sebagai fungsi “Rejection” (penolakan), telah “Mengenali” berbagai bentuk abnormalitas ditubuh seperti sel asing (pathogen), sel malignant (kanker), sel terinfeksi, sel rusak/menua/disfungsi, kotoran ditubuh (plak dipembuluh darah, “glycation”, zat-zat kimia). Identifikasi terhadap segala bentuk abnormalitas ini akan memicu proses “Eliminasi” dengan mengaktifkan berbagai reaksi kimia ditubuh untuk memulai “penyerangan”, “pengumpulan”, “pembersihan” dan “pembuangan”.

Saat ini dimulai, akan ikut muncul reaksi “Inflamasi” ditubuh, dimana akan muncul gejala-gejala dalam proses “Eliminasi” ini. Namun inflamasi yang ditimbulkan saat sistem immune bekerja ini merupakan proses yang terkontrol secara alami, dimana sistem immune akan selalu menjaga “keseimbangan” dari usaha yang dilakukan untuk mengeliminasi berbagai abnormalitas tersebut, dengan memantau “negative feed back loop” (kontrol negatif) yang dihasilkan oleh sel-sel lain ditubuh saat inflamasi menjadi terlalu tinggi dan membahayakan fungsi sel-sel lain ditubuh.

Inilah pentingnya “Immuno-Therapy” dalam program Fastosis yang juga berfungsi sebagai “Sensitifikasi” terhadap kemampuan sistem immune melihat “Situasi” ditubuh saat berlangsungnya proses “Eliminasi” terhadap abnormalitas yang ditemukannya. Sisi Metabolic Therapy dalam program Fastosis yang memicu “Selektivitas” terhadap keberadaan sel-sel abnormal melalui kondisi “Kalori Defisit” yang diciptakan, dan melalui metabolisme lemak yang membutuhkan fungsi “Mitochondria” (gernerator energi didalam sel) optimal, akan menciptakan proses Eliminasi yang sama. Dimana sel-sel abnormal ini merupakan sel-sel yang sangat bergantung pada sumber energi “Glukosa” dalam jumlah besar, saat mereka berada didalam tubuh manusia dikondisi “Surplus Kalori” dari sumber glukosa. Berkurangnya unsur glukosa ditubuh akan memicu eliminasi alami dari sel-sel ini, contohnya terhadap keberadaan sel-sel primitif tanpa “Mitochondria” seperti Bakteri, Virus, Parasit dan Jamur, maupun terhadap sel-sel normal yang mengalami infeksi sehingga bersifat sangat “Glycolytic” (sangat dominan menggunakan Glukosa dalam metabolisme energi sel).

Sel Malignant seperti sel kanker akan mengalami proses seleksi yang sama dimana sel kanker merupakan sel yang mengalami disfungsi dari “Mitochondria” yang menyebabkan sel kanker menjadi “dominan” dalam menggunakan “Glukosa” sebagai substansi bahan bakar paling “Universal” dibumi, yang bisa digunakan sebagai penghasil energi tanpa membutuhkan Oksigen dan bisa digunakan tanpa memerlukan “Mitochondria” sebagai generator pembangkit energi dengan Oksigen.
Dengan demikian sel kanker adalah sel yang merubah proses metabolismenya dengan menggunakan jalur “Fermentasi” yang hanya terjadi di “Cytoplasma” (tubuh sel) tanpa menggunakan oksigen, sehingga akan menghasilkan “asam laktat” (Lactic Acid) sebagai hasil metabolismenya. Otomatis sel kanker akan mengalami “Seleksi” yang sama dari rendahnya keberadaan “Glukosa” didarah, sehingga akan mengalami efek “defisiensi” sumber energi dan mati. Namun tidak semua Sel Kanker ini dapat dengan mudah terseleksi, karena beberapa sel-sel kanker ini akan ada yang tetap “dormant” (diam) karena memiliki metabolisme yang lebih lambat dan masih bisa bertahan hidup. Namun efek rendahnya kadar glukosa ini akan membuat mereka “Terekspose” terhadap sistem immune yang aktif dan sensitif melihat keberadaan “antigen” sel kanker, sehingga sistem immune yang telah di sensitifikasi melalui sisi “immuno-therapy” dalam program Fastosis ini, akan mudah mengenali dan menyerang sel-sel kanker yang sebelumnya bersembunyi atau “dormant” ini.

Efek kalori defisit ini juga memicu pembersihan terhadap protein-protein berlebih didalam sel, terutama terhadap protein yang mengalami “Glycation” (Karamelisasi) akibat gula. Proses pembersihan dikondisi kalori defisit ini, disebut “Autophagy”. Proses ini juga akan memicu penumpukan hasil pembersihan sel-sel ditubuh dan mengakibatkan reaksi sistem immune untuk melakukan eliminasi kotoran yang turut menimbulkan inflamasi atau gejala. Sama halnya saat “Glycation” pada struktur lemak dan protein lain ditubuh ikut dibersihkan oleh peluruhan dalam kondisi Kalori Defisit yang akan melakukan “Recycle” terhadap materi-materi ini untuk digunakan kembali sebagai sumber energi saat “Defisit Kalori” berlangsung.

Proses Eliminasi inilah yang disebut Healing Crisis, dimana merupakan usaha alami dari tubuh manusia untuk mengembalikan “Keseimbangan” (Homeostasis) nya yang terganggu. Dan kadang gejala-gejala ini dianggap sebagai gejala penyakit yang muncul kembali setelah dianggap telah sembuh sebelumnya.

Healing Crisis ini dapat seperti mengingatkan kembali terhadap gejala-gejala lama yang pernah terjadi sebelumnya atau yang sudah lampau. Ini disebut “Reversal” atau “Retracing” dimana semua “Klausa” (penyebab) dari kemunculan gejala-gejala dimasa lalu tersebut, belumlah tuntas di bersihkan keluar dari tubuh. Hal ini biasanya terjadi saat gejala-gejala di masa lampau ini ditutup dengan obat-obatan yang dapat “memanipulasi” gejala dan memberikan kenyamanan cepat, sehingga justru menutup jalur pembuangan “Klausa” tersebut dan malah menekannya lebih dalam ditubuh. Ini juga merupakan proses Healing Crisis yang ditunda, sehingga justru memicu penumpukan “Klausa” yang akhirnya berefek sistemik dimasa kini, dan menghasilkan akumulasi “kegagalan sistemik” pada sistem immune dan metabolisme yang terimbas, dan menghasilkan “Manifestasi” dalam bentuk penyakit “Kronis” yang dialami saat ini.

Ini sebabnya sangat penting untuk mengerti proses Healing Crisis alami ini, dimana “Sakit” (gejala) merupakan “Alarm” yang berbunyi, saat ada “Klausa” yang mengganggu keseimbangan (Homeostasis) ditubuh. Dan fungsi “Alarm” yang harus hilang, bukan dengan cara “memanipulasi” gejala yang muncul, namun harus dengan cara menghilangkan “Klausa” nya.
Tubuh manusia memiliki “Instrumen” alami yang selalu berusaha mengembalikan keseimbangan, saat “Kondisi” nya sudah mendukung untuk proses pengembalian keseimbangan ini dilakukan. Contohnya, saat sistem immune sudah bisa “Mengenali” kembali abnormalitas yang ada dan melakukan usaha eliminasi, dan juga saat metabolisme telah kembali membaik dengan tidak memasukkan kembali sumber-sumber makanan yang menyebabkan “Oxidative Stress” ditubuh seperti Glukosa. Defisit Kalori dari kondisi puasa sudah pasti akan memicu efisiensi ditubuh yang akan menyingkirkan sel-sel yang tidak efisien dan boros energi seperti hal nya sel-sel abnormal ditubuh.

Healing Crisis ini adalah proses eliminasi oleh tubuh yang membutuhkan energi besar. Sehingga biasanya sebelum Healing Crisis ini dimulai, bisa didahului dengan kondisi seperti peningkatan energi dan rasa lapar yang lebih sering muncul. Hal ini merupakan penanda bahwa tubuh telah siap untuk memulai proses eliminasi yang akan membutuhkan energi besar, dan saat berlangsungnya proses ini, istirahat yang cukup sangat dibutuhkan, dan mengesampingkan aktivitas lain yang tidak diperlukan. Saat Healing Crisis terjadi, biasanya akan terjadi penurunan pada nafsu makan, dimana ini adalah inisiasi alami tubuh untuk “mengalihkan” energi yang biasanya banyak digunakan oleh sistem pencernaan manusia untuk mencerna makanan. Jika kita mengerti mengenai hal ini, maka sudah seharusnya kita mendukung proses ini, dengan berpuasa atau tidak memasukan makanan padat dan hanya memasukkan sumber kalori dalam bentuk cair/halus saat dibutuhkan.

Kunci dalam pemilihan nutrisinya pun saat proses Healing Crisis ini berlangsung, harus tepat. Dimana rasio lemak harus sangat tinggi sehingga tidak memicu respon insulin yang malah dapat mempertinggi level inflamasi yang sedang dialami. Memperbanyak asupan kalori melalui sumber tinggi lemak seperti VCO (Virgin Coconut Oil), lebih disarankan dibanding sumber lain yang masih mengandung unsur protein. Karena protein pun masih mampu memicu respon insulin dalam jumlah tertentu.

Gejala-gejala yang muncul dari proses Healing Crisis ini merupakan ekspresi penggunaan jalur detoxifikasi alternatif manusia selain Feses (Colon) dan Urin (Ginjal). Hal ini terjadi saat jumlah kotoran (impurities) yang dihasilkan dari proses eliminasi yang sangat cepat, melebihi kapasitas atau kecepatan tubuh dalam memprosesnya menjadi feses atau urin. Otomatis timbunan kotoran didarah ini akan memicu reaksi inflamasi ditubuh seperti demam, panas, pusing, lemas, pegal-pegal, kesemutan, mual dan sebagainya. Tubuh akan berusaha mengimbangi proses eliminasi yang sangat cepat ini dengan membuka jalur-jalur alternatif ditubuh seperti melalui kulit (epidermis), mukus (lendir), dan mukosa (lapisan mukosa diseluruh tubuh seperti rongga mulut, gusi, lidah, tenggorokan, esophagus, dan lambung).

Contoh ekspresi jalur alternatif yang digunakan tubuh untuk mengimbangi proses pembuangan kotoran (impurities) adalah sebagai berikut :

  • Kulit (Epidermis) : Gatal, Ruam, Jerawat, Bisul, Kulit Kering, dsb
  • Mukus (Lendir) : Batuk, Pilek/ingus, Keputihan, Menstruasi Kental dalam jumlah besar, dsb
  • Mukosa : Sariawan, Gusi bengkak, Amandel bengkak, Gatal di tenggorokan, Dada sesak/panas, Ulu hati sesak, Mual, Muntah, Asam lambung meningkat, Diare/Mencret, Mata merah/berair, Hidung gatal, Telinga Berdenging, dsb

Proses Healing Crisis ini biasanya dimulai dengan kemunculan gejala-gejala seperti deskripsi tersebut diatas, dan intensitasnya akan meningkat dihari kedua. Hari ketiga hingga ke empat, adalah saat dimana eliminasi jalur urin dan feses mulai meningkat, sehingga akan mengurangi output penggunaan jalur alternatif lainnya. Hari ke empat hingga kelima, biasanya sudah memberikan perubahan drastis di level energi dan akan memberikan efek segar ditubuh yang di ikuti dengan meredanya semua gejala-gejala sebelumnya.

Proses Healing Crisis ini dapat berlangsung hingga 1 sampai 2 minggu, bila energi yang tersedia untuk proses ini berlangsung tidak mencukupi, seperti terbagi dengan proses proses pencernaan makanan atau mengalami defisiensi nutrisi essensial ditubuh. Namun sangat penting untuk mengetahui dan mengerti saat proses ini terjadi, dan tidak berusaha menutupinya dengan obat-obatan yang akan memanipulasi proses eliminasi ini. Karena penundaan dengan menggunakan obat-obatan, akan menunda pula proses eliminasi dan pembersihan efektif ditubuh.

Cara terbaik untuk membantu meredakan dan memberi kenyamanan saat proses Healing Crisis berlangsung, adalah dengan menggunakan usaha alami seperti istirahat, berjemur, berendam air hangat, sauna, pijat/refleksi, kompres dan sebagainya. Untuk membantu mempercepat penggunaan jalur utama detoxifikasi manusia melalui feses dan urin, maka disarankan untuk mengkonsumsi air lebih banyak, dan bisa menambahkan suplemen mineral seperti garam dan elektrolit lain yang dibutuhkan. Dan bila feses tertahan akibat kurangnya asupan serat, maka sumber serat halus seperti agar-agar atau cincau dapat digunakan sebagai tambahan untuk mempercepat pembersihan kotoran di colon. Penggunaan suplemen yang bersifat “Laxative” dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah konstipasi yang mungkin terjadi selama Healing Crisis berlangsung dan juga bisa mempercepat pengalihan penggunaan jalur alternatif agar kembali ke jalur utama melalui colon dalam bentuk feses. Feses dalam bentuk lunak atau cair akan mempercepat pengosongan colon, dan memberikan ruang untuk pembentukan feses baru yang menjadi media pembuangan kotoran ditubuh.

Healing Crisis adalah proses bertahap dalam memurnikan tubuh dari segala “Klausa” yang tersimpan. Dan proses ini merupakan proses yang terjadi saat kondisi dan energi ditubuh sudah mendukung untuk memicu eliminasinya. Namun untuk penyakit-penyakit Kronis yang merupakan “Manifestasi” dari akumulasi berbagai “Klausa” didalam tubuh, tidaklah akan selesai dibersihkan melalui satu atau dua kali proses Healing Crisis. Karena tidak mungkin semua “Klausa” ini diangkat keluar dalam satu waktu, yang malah bisa menyebabkan terlalu banyaknya kotoran hasil eliminasi, dan memicu inflamasi yang berlebihan dan justru membahayakan tubuh. Oleh sebab itu proses ini akan terjadi beberapa kali hingga benar-benar bersih mengangkat keluar semua “Klausa” ditubuh. Dan di setiap tahap eliminasi yang telah selesai dilewati, maka akan terlihat “Perubahan” dan “Kemajuan” dari tingkat kesehatan maupun pengurangan dari “Manifestasi” penyakit yang dialami sebelumnya. Dengan cara memaksimalkan “Conditioning” terhadap sistem immune dan metabolisme, maka proses eliminasi berikutnya akan mudah untuk dimulai kembali, yang otomatis akan mempercepat rangkaian pembersihan yang menghasilkan kesehatan yang sempurna dan bersih dari segala bentuk “Klausa” yang tersimpan.

Healing Crisis dalam program Fastosis merupakan suatu hal yang diharapkan untuk muncul saat memiliki masalah kesehatan ditubuh. Karena dengan munculnya “Healing Crisis” ini, menandakan bahwa program Fastosis berhasil “mengkondisikan” sistem immune dan metabolisme untuk menyembuhkan dirinya sendiri (Self-Healing).

Adaptasi yang optimal pada penguasaan kondisi puasa akan memicu kemunculan proses eliminasi (Healing Crisis) yang lebih cepat. Dan ini merupakan tujuan utama dari program Fastosis untuk menghasilkan efek “Therapeutic” (pengobatan) bagi berbagai masalah kesehatan pada manusia akibat gaya hidup yang salah sebelumnya, seperti konsumsi karbohidrat tinggi yang menyebabkan level “Oxidative Stress” ditubuh meningkat, dan kondisi surplus kalori setiap saat yang memicu berbagai masalah pada metabolisme ditubuh dengan berbagai macam manifestasi penyakit yang telah dimiliki saat ini.

Tujuan program Fastosis adalah menyadarkan manusia, bahwa obat untuk segala penyakit pada manusia itu, sudah ada didalam tubuh sejak lahir. Sistem immune dan Metabolisme lah obat alami manusia, yang saat dikondisikan untuk bekerja optimal, maka akan bisa menyingkirkan berbagai manifestasi penyakit yang ada pada manusia. Karena dasar kerja Sistem Immune manusia adalah menolak (Rejection) terhadap semua abnormalitas yang terjadi ditubuh. Dan metabolisme selektif (Selection) manusia yang dapat menggunakan “Lemak” sebagai bahan bakar untuk energi, akan menciptakan seleksi alami ditubuh terhadap keberadaan sel-sel abnormal yang bersifat “Anabolik” (berkembang) dan “Inflammatif” atau “Over-Reaktif”.

Kombinasi kemampuan sistem immune dan metabolisme ini merupakan dasar terciptanya program Fastosis ini. Namun fundamental psikologi yang merupakan penentu utama efektivitas sistem immune dan metabolisme dalam bekerja, merupakan prioritas utama yang harus selalu dijaga. Karena masalah pada fundamental Psikologis sudah pasti akan mempengaruhi kinerja dari sistem immune dan metabolisme, dan bahkan bisa merusaknya saat tingkat stress menjadi tinggi dan tidak bisa dikontrol. Itu sebabnya mengapa kondisi Psikologis selalu menjadi “Variabel” dalam keberhasilan sistem immune dan metabolisme untuk memurnikan tubuh dari segala “Klausa” penyebab penyakit pada manusia. Dan Psikologis ini merupakan fundamental yang hanya bisa disembuhkan melalui keyakinan dan iman terhadap agama masing-masing. Ini sebabnya mengapa kesembuhan itu hanya datang dari Tuhan. Karena jika tanpa seizin Tuhan, maka psikologis manusia akan diombang-ambingkan dalam kesesatan dan ketakutan yang akhirnya memicu “Stress” yang kemudian menekan fungsi sistem immune dan metabolisme manusia.‎

 

Pencarian Keto Fastosis:

healing crisis,efek ketofastosis,cara mengatasi healing crisis,ketosis healing crisis,healing crisis keto,HC ketofastosis,healing crisis ketofastosis,Healing ketofaseti,healing crisis keto fastosis,Healing crisis dalam ketofastosis,

Comments

comments

Be the first to comment.

Leave a Reply


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*